
Meski akhirnya publik disuguhkan kembali tokoh-tokoh politik yang itu-itu saja, tapi setidaknya masih ada harapan akan terjadi perubahan di lima tahun mendatang. Setidaknya itu terlihat dari dua pasangan kandidat calon presiden dan wakil presiden selain incumbent.
Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang difavoritkan mendapatkan tantangan sepadan dari dua kandidat lainnya, yakni Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo. Ketiga kandidat ini merupakan orang-orang yang sudah lama wara-wiri di belantika pemerintahan negeri ini, baik menjadi presiden, wakil presiden, menteri, Gubernur Bank Indonesia, Panglima TNI, maupun petinggi TNI lainnya.
Meski bukan orang baru lagi, masyarakat berharap agar mereka tidak melanjutkan gaya-gaya kepemimpinan sebelumnya. Publik sudah merasakan betapa kekayaan alam yang ada di republik ini terkesan salah urus.
Bisa dikatakan hampir sebagian besar lini bisnis di negeri ini ada kepemilikan asingnya. Lihat saja untuk sektor mineral dan migas semua tahu asinglah yang mengelolanya. Begitu pula di sektor hilirnya, asing kini sudah mulai merambah kota-kota besar di tanah air.
Barang-barang konsumsi yang sejatinya bisa dihasilkan dan dipenuhi oleh bangsa Indonesia, seperti air minum misalnya sudah 'dikuasai' asing juga. Meski kerja sama operasi, tapi unsur asing di sana menjadikan hajat hidup orang banyak itu begitu rentan dengan perubahan harga. PDAM yang dulu berfungsi sebagai perusahaan daerah untuk memenuhi kebutuhan rakyat terhadap air minum, kini setelah ada kepemilikan asing di sana orientasinya juga profit.
Penulis bukan anti asing, akan tetapi hanya berpikir, "Apakah negeri ini begitu tergantungnya pada asing, sehingga hal-hal yang seharusnya bisa dikelola sendiri oleh bangsa ini juga diberikan pada pihak lain?"
Di kota-kota,kepemilikan hotel, gedung bertingkat, kondominium, ataupun pusat-pusat bisnis ada pihak asing. Manajemen mereka juga oleh asing.
Sekali lagi, bukan berarti penulis membenci aliran dana asing ataupun pihak asing, akan tetapi hanya menyayangkan betapa perekonomian negeri ini begitu tergantung pada asing. Sampai-sampai sekolah saja sudah asing yang begitu dominan untuk yang bertaraf internasional.
Di jalur kuliner juga demikian. Bangsa ini telah dicekoki oleh McD, KFC, Pizza Hut, atau sederetan nama lainnya. Mereka belum merasa 'wah' atau 'modern' bila tidak makan di tempat makanan yang menyajikan 'makanan sampah' itu.
Kembali ke visi-misi pasangan kandidat calon presiden dan wakil presiden di Pemilihan Presiden 2009 ini, sepertinya masyarakat berharap agar kekayaan bangsa ini jangan sampai justeru memperkaya bangsa lain. Negeri ini harus dikelola oleh bangsa sendiri dan untuk kemakmuran kita bersama.
Soal kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), kita harus percaya diri betapa anak-anak bangsa Indonesia sudah mengharumkan negeri ini di kancah Olimpiade Ilmu Pengetahuan. Sampai-sampai ada sebuah tulisan di Harian KOMPAS tentang bagaimana Singapura 'bergerilya' mencari anak-anak cerdas untuk dididik di sana dan akhirnya 'bersumbang sih' pada negeri jiran itu.
Bila pengelola negeri ini sudah benar menjalankan sistem pendidikan, tentunya sumber daya manusia yang dihasilkannya pun tidak akan kalah dengan negara lain. Kita juga tidak perlu 'mengimpor' tenaga-tenaga asing yang 'nota bene' bekerja sesuai dengan 'budaya' dan 'pemikiran' mereka.
Baru-baru ini kita juga bisa berbangga betapa anak bangsa bisa membuat sendiri mobil maupun motor nasional, bahkan pembuatnya adalah anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bila ini benar-benar diperhatikan pemerintah, tentu sudah sejak lama kita mampu memproduksi berbagai alat --bukan hanya mobil dan moto-- yang memudahkan hidup ini.
Indonesia di masa mendatang harus lebih baik dari sekarang. Jangan sampai para pemimpin negeri ini membuat kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi dengan bermodalkan utang. Artinya, untuk menggerakkan sektor riil maupun konsumsi dipenuhi dengan utang dan utang.
Jangan sampai anak cucu kita hanya diwarisi utang dan bukan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia.
Mari, ketiga pasangan kandidat calon presiden dan wakil presiden yang nanti akan berlaga di Pemilihan Presiden 8 Juli harus benar-benar berpikir jernih dan bertindak untuk kemaslahatan bangsa dan bukan untuk diri sendiri maupun golongannya.
Rakyat sudah terlalu bosan dengan retorika ataupun jargon politik semata. Kami, rakyat yang sering mereka sebut, merindukan langkah nyata untuk menyejahterakan kehidupan kami.
Program-program pengentasan kemiskinan yang sekarang ini ada juga diharapkan jangan hanya sekedar KEJAR TAYANG PROPOSAL dan HANYA UNTUK MENGHABISKAN ANGGARAN saja.


0 komentar:
Post a Comment