
ADAKAH perbedaan panggung hiburan dan panggung politik? Dalam konteks sekarang, tentu jawabnya sangat tipis, bahkan bisa dibilang nyaris tak berbeda. Politikus yang biasanya berkoar memunculkan ide dan pemikiran untuk kepentingan masyarakat tentu itu menjadi tugasnya. Namun, bila hal itu diambilalih seorang artis atau katakanlah public figure yang notabene masih awam dengan trik dan segala strategi di panggung politik, tentu kita bisa membayangkan apa yang terjadi kelak.
Seperti apa wajah parlemen kita mendatang, setelah besar kemungkinan akan banyak diisi kalangan pesohor, atau selebritis? Itulah pertanyaan besar, dan tentu sangat menarik dicermati. Di satu sisi, wajah rupawan dan popularitas yang dimiliki para selebritas ini tentu tak lepas dari panggung hiburan yang memang telah membesarkan nama mereka. Di sisi lain panggung politik tentu memiliki tantangan sangat berat untuk bisa ditaklukkan.
Hasil pemilu legislatif, Kamis, 9 April 2009, sangat memungkinkan munculnya sejumlah figur publik di Senayan. Dari perhitungan sementara Tabulasi Nasional Komisi Pemilihan Umum, sejumlah artis berjaya di daerah pemilihan (Dapil) mereka masing-masing. Sebut saja beberapa nama di antarnya; Rieke Diah Pitaloka caleg PDIP, Marissa Haque caleg PPP, Venna Melinda caleg Demokrat, Eko Patrio dan Mandra caleg PAN, dan masih banyak yang lain.
Memiliki pemilih terbanyak, sehingga kelak berhasil mengantarkan mereka duduk di kursi parlemen, tentu saja belum cukup. Apalagi, karena tantangan yang menghadang di depan, tidak sederhana, atau malah sangat berat. Tidak saja karena krisis global yang membuat terpuruk kehidupan masyarakat, juga karena terjadinya krisis kepercayaan rakyat terhadap komunitas parlemen di Tanah Air, terutama kiprah para wakil rakyat yang dinilai telah mengkhianati aspirasi masyarakat secara umum.
Untuk para anggota dewan, dari mana pun latar belakangnya, jelas harus bekerja keras, membersihkan citranya. Rakyat menanti para wakil rakyat yang cerdas, tapi juga bermoral baik dan memiliki integritas. Rakyat menjadi apatis para wakilnya terlibat suap, korupsi, dan praktik asusila. Rakyat menjadi tak yakin apakah lembaga legislatif bisa menjadi saluran aspirasi? Dan lagi-lagi pertanyaannya, apakah para artis dapat memenuhi tuntutan berat ini?
Tentu kita harus obyektif melihatnya, artis juga manusia dan punya keinginan untuk berbuat. Tapi, penekanan tegas harus diberikan, karena sesungguhnya panggung politik itu sangatlah berbeda dari apa yang mereka bayangkan dan kerjakan selama ini di panggung hiburan penuh gemerlap dan pundi-pundi uang yang dihasilkan. DPR, tempat, dimana mereka harus bertindak cekatan dan mampu memperjuangkan tuntutan dan aspirasi yang begitu dinamis. Satu kata pasti, kemaslahatan bangsa, negara dan masyarakat adalah tujuan utama.
Tak Mau Koloborasi dengan Kejahatan
Calon anggota legislatif Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan nomor urut 2 dari dapil Jawa Barat I yang meliputi Kota Bandung dan Cimahi, Marissa Haque, salah seorang selebritas yang cukup beruntung dan patut berbahagia melihat hasil sementara Pemilu 2009. Di tengah kritikan tajam, artis peraih piala Citra 1984 dalam film 'Tinggal Landas Buat Kekasih' ini sudah meraup suara signifikan, dan karena itu ia mengaku bersyukur meraih suara terbanyak.
"Alhamdullilah, mendapat suara terbanyak. Tapi, angka pastinya belum diketahui karena perolehan suara naik terus," ujar perempuan yang akrab disapa Icha ini saat dihubungi beritabaru.com, di Bandung.
Icha menceritakan, ia mengetahui unggul dalam perolehan suara dari pantauan relawannya di sejumlah TPS. Ia juga menggunakan beberapa teknik dan metode sehingga berhasil meraih suara terbanyak. Antara lain, bicara jujur apa adanya. Mengatakan kepada mereka apa yang telah dikerjakan bagi rakyat Indonesia. Jangan takut mengatakan yang benar walau sepahit apapun. Jangan pernah takut dipecat dari pekerjaan hanya karena mempertahankan kursi empuk. Tapi jangan mau disuruh berkolaborasi dengan kejahatan. Lalu, harus senantiasa bersandar hanya kepada Allah SWT semata.
"Saya selalu berdoa, jika itu tak baik jangan jadikan saya wakil rakyat," ucap Marissa haque yang bersama suami Ikang Fawzi mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, tetapi dari parpol berbeda.
Meski suaranya unggul sementara, Icha tetap waspada. Pasalnya, ia tak ingin terulang kejadian pilkada Banten. Menurut Icha, pilkada Banten membuatnya trauma karena ada kertas suara palsu sehingga balita maupun yang sudah meninggal bisa memilih.
Selain waspada, imbuh Icha, ia pun tak yakin otomatis lolos. Sebab, suara partainya lemah dan partai tak bekerja efektif. Bahkan, kata Icha, DPP yang mendrop bendera untuk dibagi-bagikan secara merata kepada sepuluh calon anggota legistatif PPP di dapil Jawa Barat I hanya digunakan oleh caleg nomor urut satu yang notabene adalah pengurus pusat yang menduduki posisi Wakil Sekjen (Famali Abdul Malik).
Oleh karena itu, ia tak berharap banyak terhadap pencalonannya. Bahkan, jika nanti tak terpilih menjadi caleg, dirinya akan fokus untuk membuat sebuah buku tentang perjalanan hidup serta mengajar di beberapa perguruan tinggi. Tetapi, jika dirinya terpilih, akan memperjuangkan dan mengutamakan pendidikan usia dini, mikro ekonomi berbasis syariah serta mengutamakan kejujuran dan keadilan. Selain itu, tentu yang utama membingkai politik dalam hukum.
Untuk itu, bekas anggota Fraksi PDIP DPR ini membidik komisi VI yang membidangi industri perdagangan. Lalu komisi X yang membidangi masalah pendidikan dan Komisi III yang menangani masalah keadilan dan hukum. Saat masih di PDIP duduk di Komisi VIII yang antara lain membidangi masalah agama dan sosial. Kemudiaan, Komisi IV yang membidangi masalah kehutanan, pertanian dan perikanan.
Icha terpaksa meninggalkan kursi DPR, karena nekad mencalonkan diri dalam pilkada Gubernur Banten, sebagai calon wakil gubernur, meski partainya (PDIP) ketika itu memiliki kebijakan lain. Karena dianggap melanggar aturan main partai, Marissa akhirnya direcall.
Bintang Film dan Politikus
Marissa Grace Haque, lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962, semula dikenal sebagai aktris film. Selanjutnya, istri penyanyi rock sekaligus pengusaha, Ikang Fawzi ini, melebarkan sayap menjadi sutradara, produser film dan politikus.
Sebagai politikus, karier politik ibu dari Isabella Muliawati Fawzi, 19, dan Marsha Chikita Fawzi, 18 ini, diawali dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi anggota DPR-RI (2004).
Akibat konflik yang dilatarbelakangi soal pencalonan dirinya sebagai wakil gubernur Banten, mendampingi Zulkiflimansyah kandidat gubernur yang diangkat oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Syarikat Islam (PSI), Marissa akhirnya dipecat dari senayan oleh partainya.
Marissa Haque, yang tidak pernah pergi jauh dari dunia perfilman, masuk dunia politik. Dia menjadi anggota legislatif PDIP dari daerah pemilihan Bandung. Sebelumnya selama tiga tahun di Amerika menempuh kuliah S2 di Jurusan Film dan Televisi Internasional di Universitas Ohio, AS, sembari bermunajat (mendekatkan diri) kepada Allah, mengurus suami dan dua orang putrinya yang mulai remaja, dan mengajar.
Dalam diri Marissa Haque mengalir darah campuran, asing, dan lokal. Ayahnya, Allen Haquem asal Belanda-Perancis dan beragama Katolik, sedangkan ibunya Nike Suharyah binti Cakraningrat dari Sumenep Madura, Jawa Timur dan beragama Islam. Kakeknya berasal dari India, dan juga muslim, sedangkan neneknya keturunan Belanda-Perancis beragama Kristen. Icha menikah dengan Rocker Ikang Fawzi, 12 April 1987.
Sedari belia, selain sekolah sebagai kewajiban utama-nya, Icha —demikian ia disapa— mengisi waktu luangnya dengan kegiatan menari dan menyanyi dalam sanggar “Swara Mahardhika” pimpinan Guruh Soekarnoputera. Namun rupanya, dunia yang ia selami itu terasa sempit, hingga akhirnya ia tertarik menjadi model iklan sebuah produk. Sejak saat itulah, wajahnya mulai dikenal banyak orang.
Sutradara MT. Risyaf mengajak Marissa main dalam film “Kembang Semusim” (1980). Talentanya yang besar dalam seni peran kemudian membuahkan hasil. Empat tahun kemudian, Marissa meraih Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Terbaik di film “Tinggal Landas Buat Kekasih” (1984).
Semenjak itu, bintang Marissa kian bercahaya. Lewat aktingnya dalam film “Matahari Matahari” (1985), ia berhasil meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik 1987. Tak lama kemudian, main bersama suaminya, Ikang Fawzi, dalam film “Biarkan Bulan Itu” (1986), ia dinobatkan sebagai Aktris Terbaik di ajang Festival Film Indonesia.
Tak puas hanya sebagai pemain, ia mulai menjajal kemampuannya sebagai produser. Dari tangan dingin ibu dari dua puteri ini, terlahir film “Sepondok Dua Cinta” (1990) dan “Yang Tercinta” (1991). Semenjak itu, ia mulai tertarik memproduksi sejumlah sinetron. Salah satu yang berhasil adalah sinetron “Salah Asuhan” (1993) yang meraih Piala Vidia sebagai mini seri terbaik versi Festival Sinetron Indonesia 1994.


0 komentar:
Post a Comment