
Perkiraan tekanan inflasi yang melemah pada November, dan sedikit tekanan kenaikan pada Desember tetapi akan menurun lagi pada Januari mendatang, ada peluang bagi BI untuk membawa suku bunga BI turun 25 bps menjadi 9,25%.
Pada Kamis, 4 Desember mendatang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia akan menetapkan BI
rate untuk terakhir kalinya. Menurut analais Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, pertimbangan turun ini juga berdasarkan pada tingginya tuntutan dunia usaha untuk BI membawa turun suku bunga karena kelesuan ekonomi global yang berimbas pada sektor manufaktur dan UMKM domestik.
Resesi global dan penurunan ekonomi Indonesia di tahun 2009 mestinya membuka peluang penurunan ekspektasi inflasi di masa mendatang. Namun di saat yang sama Indonesia akan mempunyai hajatan besar yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden Langsung. Kedua hajatan tersebut bisa menimbulkan efek inflasi yang bersumber dari sisi permintaan akan dorongan uang beredar.
Dana pemilu yang disediakan oleh anggaran 2009 mencapai Rp 19 triliun, belum termasuk anggaran dari masing-masing partai dan calon itu sendiri. Dengan efek pengganda uang yang bisa mencapai 8 kali, maka dorongan pengeluaran untuk pemilu ini bisa menciptakan efek uang beredar yang cukup kuat. Disisi lain, dorongan pencairan anggaran dari fiskal 2008 juga ikut memicu dorongan inflasi dari sisi permintaan.
Dengan mempertimbangkan faktor ini, persepsi
ekspektasi inflasi yang naik bisa dianggap permanen sehingga peluang BI untuk mempertahankan suku bunga di 9,5% cukup besar.
Indikasi kenaikan suku bunga juga terlihat dari hasil lelang SBI yang naik menjadi 11,24% untuk SBI 1 bulan dengan serapan yang cukup besar mencapai Rp 30,38 triliun dari Rp 30,79 triliun yang masuk.
Keputusan akhir BI mungkin juga akan dipengaruhi oleh kondisi nilai tukar rupiah pada pekan depan. "Jika nilai tukar masih dalam tekanan jual, kami memperkirakan faktor ini akan membuat BI mempertahankan BI ratenya di 9,5%" ujarnya.


0 komentar:
Post a Comment