Random Post

.
Home » » Mendadak Peduli Rakyat

Mendadak Peduli Rakyat

Written By REDAKTUR on 24 August 2008 | 8:29 PM

Pemilu 2009 banyak artis jadi caleg (calon legislatif) maupun calon kepala daerah/wakil kepala daerah. Cara instan mendulang suara ataukah kaderisasi partai yang gagal? Jangan sampai kebiasaan beraksi di depan kamera terus dibawa.


Sabtu sore, sebuah acara infotainment di sebuah stasiun televisi swasta nasional menyajikan liputan yang diberi titel “investigasi”. Ternyata, tayangan tersebut berisi kegiatan sang artis seharian penuh.

Kala itu, sang artis yang sedang menjadi ‘jualannya’ adalah Saiful Jamil, pedangdut yang kerap menjadi sorotan infotaintment karena kasus rumah tangganya. Malah, ada yang menyebut, liputan rumah tangganya itu lebih heboh ketimbang aksi panggungnya.
Usut punya usut, ternyata sang artis ternyata sedang dicalonkan menjadi Wakil Walikota Serang, Banten. Sorotan kamera pun terus menyertai kemana perginya sang biduwan. Bahkan ketika sang biduwan menunaikan ibadah Umrah, dan berencana meminang seorang wanita.

Di saat lain, ketika ditanya alasannya menjadi salah seorang kandidat wakil bupati, dengan ‘dialek artis’ ia mengatakan selayaknya politikus ulung di negeri ini. Kemiskinan, keterbelakangan, gizi buruk, hingga kenaikan harga-harga kebutuhan pokok terlontar dengan lancar.

Lain Saiful, lain pula Primus Yustisio. Aktor laga dan juga model terkenal ini juga menjadi calon Bupati Subang. Belum lagi artis dan juga Advokat Gusti Randa yang mencalonkan menjadi Walikota Padang, Sumatera Barat. Tak mau ketinggalan, pedangdut Ayu Soraya juga dicalonkan menjadi Wakil Walikota Tegal, Jawa Tengah. Mereka bisa jadi ingin mengulang kesuksesan Rano Karno dan Dede Yusuf yang sukses menjadi Bupati Tangerang dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Apalagi bekal artis yang mereka sandang tentu begitu bermanfaat untuk mendulang suara.

Meski hal itu belum tentu benar, karena pengalaman juga membuktikan artis Marissa Haque kalah menjadi Wakil Gubernur Banten beberapa waktu lalu. Kalau mengacu kapabilitas, Marissa Haque tentu merupakan pribadi berpendidikan dengan menyandang gelar Master of Arts bidang Ilmu Hukum dari universitas terkenal di Amerika Serikat.
Namun, berbagai hipotesa awal bahwa dengan ketenerannya sebagai artis dan pengidolaan sebagian masyarakat kepadanya maka suara yang didulang pun akan berbanding lurus tentu sah-sah saja.

Tidaklah heran bila kemudian hal sama diikuti beberapa rekan seprofesi mereka. Sebut saja Helmi Yahya, artis dan presenter kuis kondang menjalonkan diri sebagai calon Wakil Gubernur Sumatera Selatan. Lagi-lagi, ditengarai kehadiran Helmi Yahya di sini salah satunya diperuntukkan sebagai pendulang suara.

Kehadiran para artis disebut-sebut sebagai strategi instan untuk memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Dengan kepopuleran maupun tampang mereka, masyarakat disuguhkan calon pimpinan alternatif meski tidak melalui seleksi kaderisasi sebagaimana mestinya. Pengalaman berpolitik pun cenderung masih seumur jagung.

Ke Panggung SenayanTersohornya artis rupanya juga membuat para pengurus partai politik melirik mereka. Meski bukan barang baru, hadirnya para pesohor di pentas politik seakan menjadikan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 begitu semarak.

Politikus dadakan tersebut tersebar di beberapa partai, bahkan partai besar seperti Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), maupun Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Untuk Pemilu 2009, partai politik yang paling banyak mencalonkan artis sebagai calon legislatifnya adalah Partai Amanat Nasional (PAN). Ada sedikitnya 33 artis yang menjadi calon legislatif dari partai yang dipimpin Soetrisno Bachir ini.

Ada yang menyebut, kedekatan figur sang ketua umum PAN dengan kalangan selebritis menjadikan partai ini begitu banyak artis yang ‘nyaleg’ di sini. Sebut saja, Ikang Fauzi untuk derah pemilihan (dapil) Banten, Eko Partrio untuk dapil Nganjuk, Tito Soemarsono untuk dapil Purwakarta, serta Mandra dan Wanda Hamidah untuk dapil Jakarta.

Lalu, untuk PPP setidaknya ada sepuluh artis yang dicalonkan untuk maju menjadi anggota legislatif dalam Pemilu 2009. Para artis yang bergabung di partai berlambang Ka’bah itu antara Marissa Haque (dapil Bandung), Ratih Sanggarwati (dapil Ponorogo-Trenggalek), Akri Patrio, Mat Solar ‘Bajaj Bajuri’ (dapil Jakarta), Denada, Emilia Contessa, Ratna Listy, Okky Asokawati, hingga pedangdut Evie Tamala.
Partai Golkar juga menyediakan kursi calon legislatifnya bagi artis. Ada beberapa nama yang dicalonkan oleh partai berlambang pohon beringin ini, yaitu Tantowi Yahya (dapil Sumatera Selatan), Jeremy Thomas (Riau), Nurul Arifin (Purwakarta), Puput Novel (dapil Bandung), dan Mutia Hafidz (dapil Nangroe Aceh Darussalam).
Sementara untuk PDI Perjuangan, ada komedian Miing Bagito, Rieke Dyah Pitaloka, dan Franky Sahilatua sebagai calon legislatifnya. Menurut Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Thahjo Kumolo, artis-artis yang kebetulan menjadi calon legislatif partainya itu merupakan figur-figur yang kapabilitasnya tidak diragukan lagi. Meski mereka artis, namun kapasitas mereka di jalur politis dan jam terbangnya sudah memadai. Pendek kata, mereka merupakan artis yang berkualitas.

Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir, berdalih, partainya banyak menggandeng artis lantaran untuk perubahan. Para artis yang menjadi calon legislatif PAN sudah siap untuk memperjuangkan nasib rakyat, dan mereka juga melalui seleksi yang ketat. Agar tujuan tersebut bisa terlaksana dengan baik, PAN juga mengadakan semacam kursus kilat legislator bagi calon legislatifnya.

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romy Romahurmuzi menyatakan, kehadiran artis di partainya tentu dengan melalui seleksi ketat. Artis tersebut harus memenuhi persyaratan khusus seperti rekam jejaknya bagus, berkapasitas, dan berasal dari keluarga yang harmonis. Ketentuan tersebut, lanjutnya, untuk menjaga agar citra PPP sebagai partai Islam tetap terjaga. Romy juga tidak memungkiri bila kehadiran para pesohor tersebut untuk mendongkrak perolehan suara partainya.

Sementara itu, Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar Firman Subagyo mengatakan, partainya tidak akan memanfaatkan artis sebagai pendongkrak suara, akan tetapi mengakomodir suara dari para seniman. Lantaran tujuan inilah Partai Golkar tidak jor-joran dalam mencalonkan para selebriti buat melenggang ke Senayan, akan tetapi hanya mereka yang bereputasi baik dan berpengalaman di dunia politik yang dicalonkannya.

Menanggapi maraknya artis yang maju ke Senayan di Pemilu 2009 ini dinilai harus disikapi hati-hati oleh para petinggi partai. Menurut pengamat politik CSIS J.Kristiadi, para artis tersebut harus benar-benar yang bereputasi baik dan berpengalaman. Kalau tidak, kehadiran mereka justeru menjadi bumerang bagi partai bersangkutan. Sebab, bila mereka hanya artis yang biasa-biasa saja maka malah kontradiktif dengan maksud partai untuk mendulang suara.

Fenomena maraknya artis maju menjadi calon legislatif juga menjadi perhatian CETRO (Centre for Electoral Reform). Seperti diungkapkan Direktur CETRO Hadar Navis Gumay, fenomena tersebut memang terbaca sebagai strategi untuk mendulang suara di Pemilu 2009, terlepas dari berbagai alibi yang dilontarkan oleh para petinggi partainya.
Hadar juga menyayangkan bila mereka seleksinya asal-asalan, karena menjadi anggota dewan bukanlah main-main. Di pundaknyalah amanah masyarakat yang memilihnya harus disampaikan. Bila mereka kurang cakap, paka tugas utama dewan seperti membuat undang-undang (fungsi legislasi), membuat anggaran (budget), dan mengawasi jalannya pemerintahan tidak berjalan dengan optimal.

Kaderisasi Gagal?Meski pencalonan artis sebagai calon legislatif bukanlah barang baru, tapi berbagai pihak mempertanyakan mengapa partai terkesan begitu massif melakukannya. Mereka mempertanyakan, bila jumlah artis yang dicalonkan begitu banyak maka kemana kader partai yang sudah dibina selama ini. Jangan-jangan, cara instan tersebut dilakukan karena kaderisasi internal partai yang tidak jalan.

Mengenai hal tersebut, Hadar Navis Gumay mengatakan, kesan kaderisasi partai gagal merupakan analisa yang masuk akal. Bila partai sudah baik kaderisasinya, maka artis-artis yang dicalonkannya pun seharusnya tidak asal-asalan. Artinya, tidak hanya sekedar artis yang populer dan langsung oke ketika mereka mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Sang artis pun harus mulai dengan proses pengkaderan internal partai. Misalnya saja Nurul Arifin yang telah lama ikut di Partai Golkar.
Tentu bukan bermaksud apriori terhadap para artis tersebut, yang jelas di internal partai tentu masih banyak kader-kader yang rela dan ikhlas berjuang dari bawah untuk membesarkan partainya. Apakah para kader semacam ini rela dengan kehadiran para ‘kader instan’.

Bila para kader partai sudah merasakan hal itu maka perpecahan partai pun bukan suatu kemustahilan. Mereka yang merintis dari bawah merasa tersisih ketika mengetahui kehadiran para artis tersebut.

Belum lagi fenomena sanak-saudara dari tokoh partai yang ikut mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Seperti Puan Maharani (putri Megawati/PDI-Perjuangan), Edhie Baskoro Yudhoyono (putra Susilo Bambang Yudhoyono/Partai Demokrat), Ahmad Mumtaz Rais (putra Amien Rais/PAN), Ikrar Fatahillah (anak A.M. Fatwa/PAN), Ahmad Hafiz Thohir (adiknya Hatta Radjasa/PAN), Dave Akbarsyah Laksono (putra Agung Laksono/Partai Golkar), Agus Haz (putra Hamzah Haz/PPP), Hilman Ismail (putra Buya Ismail Hasan Metareum/PPP), dan Kartika Yudhisti (putri Suryadharma Ali/PPP). Kehadiran mereka ini juga terkesan instan.

Sama seperti fenomena artis, bila para kerabat tokoh partai tersebut ternyata tidak sebagai kader partai yang merintis dari bawah, bisa jadi para kader lainnya akan merasa ditinggalkan. “Fenomena artis dan dinasti keluarga ini seharusnya dibarengi dengan kehadiran mereka sebagai kader dan dimulai dari bawah, sehingga tidak muncul kesan instan,” papar Hadar Navis Gumay pada majalah ini. (KP)
Share this article :

0 komentar:

.

.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. PROPUBLIK - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger