
Nyaris tanpa disadari, Tuberkulosis kini jadi momok di negeri ini. Kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari segi jumlah, kasus di Indonesia berada di urutan ketiga dunia setelah India dan China.
Karena itu, sewajarnya peringatan ke-126 Hari Tuberkulosis se-Dunia pada Senin (24/3) ini dijadikan momentum untuk mencari solusi atas meluasnya Tuberkulosis, penyakit menular yang menyerang paru-paru.
Melalui peringatan ini, lembaga pemerintah, lembaga donor, dan lembaga nirlaba diharapkan mampu meningkatkan koordinasi guna memangkas jumlah penderita Tuberkulosis (TB).
Data Global Tuberculosis Control 2008 terbitan WHO menunjukkan, negara urutan teratas dalam jumlah penderita TB adalah India. Jumlah penderita TB di negeri itu rata-rata mencapai 815 ribu orang per tahun. China di urutan kedua (595 ribu kasus) dan Indonesia ketiga (500 ribu kasus).
Khusus untuk Indonesia, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dari 500 ribu kasus baru setiap tahun, separonya adalah penyakit menular yang menyebar di seluruh daerah di Tanah Air.
"Hampir tidak ada daerah yang bebas dari TB di Indonesia," ungkap Siti Fadilah ketika menyampaikan kata sambutan dalam Peringatan Hari TB Sedunia di Bali, Senin (24/3).
Di Indonesia, prevalensi TB dibedakan dalam tiga regional. Dari yang tertinggi (kawasan timur meliputi Kalimantan, Papua, Maluku, NTB, NTT) dengan 210 kasus per 100 ribu penduduk, kawasan sedang (Sumatera) dengan 160 kasus per 100 ribu penduduk, dan kategori rendah (Jawa-Bali) dengan 64 kasus per 100 ribu penduduk.
Berbagai upaya telah dilakukan dengan harapan jumlah penderita TB baru menurun. “Dibutuhkan peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting kesehatan dan kebersihan lingkungan,” ujar Siti Fadillah.
Secara global, kemajuan dalam mengendalikan epidemi TB sedikit lambat hingga 2006. Dalam kurun 2001-2005, rata-rata kasus baru TB yang terdeteksi meningkat 6% per tahun. Pada 2005-2006, angka kasus TB turun menjadi 3%.
Sejumlah program nasional yang dijalankan secara bergegas pada lima tahun sebelumnya, memang, tak lagi berlanjut pada 2006. Terlebih lagi di sebagian besar negara di Afrika tak ada peningkatan dalam deteksi kasus TB melalui berbagai program nasional.
Berbagai penelitian menyebutkan, banyak pasien TB dirawat oleh lembaga-lembaga swasta, lembaga nonpemerintah, organisasi berbasis massa dan keagamaan, sehingga sulit mendeteksi jumlah kasus TB melalui program nasional.
"Kita telah memasuki era baru," kata Dr Margaret Chan, Director-General WHO, belum lama ini. Ia menambahkan, untuk mencapai kemajuan dalam penanganan kasus TB, pertama kali memang harus meningkatkan program-program publik. Beikutnya baru merangkul lebih banyak lembaga nonpemerintah.
Karena itu, dukungan lembaga donor dan komitmen politik nasional harus diperkuat untuk menjaga kesinambungan program penanggulangan TB.
Sejauh ini, Asia termasuk kawasan dengan penyebaran TB tertinggi di dunia. Setiap 30 detik, satu pasien meninggal dunia akibat TB. Sebelas dari 22 negara dengan angka kasus TB tertinggi berada di Asia, di antaranya Banglades, China, India, Indonesia, dan Pakistan.
Di Indonesia, angka kematian akibat TB bahkan mencapai 140.000 orang per tahun atau 8% dari korban meninggal di seluruh dunia. Setiap tahun, 75% dari 500 ribu kasus baru TB menyerang kelompok usia produktif.
Tingginya kasus TB di Indonesia, antara lain, karena kurangnya komitmen bersama untuk mengatasi TB. Selain itu, perlu rumusan kebijakan nasional tentang TB, rencana strategis pengendalian TB lima tahun ke depan, pembagian obat gratis, koordinasi dan kesepakatan antar departemen.
Di Indonesia, banyak pemda mengalokasikan anggaran kesehatan kurang dari 15%, bahkan seringkali tidak dianggarkan. Koordinasi makin sulit karena kebijakan TB di tingkat pusat dan daerah acap berjalan sendiri-sendiri, terutama setelah otonomi daerah diberlakukan.
Akankah dibiarkan Tuberkulosis terus mendesis di negeri ini? Jangan! Makin banyak rakyat Indonesia mengidap TB, makin melorot pula produktivitas bangsa ini. Sebab, pengidap TB yang sudah akut praktis tersingkir dari lingkungan kerja.
Nah, melihat kondisi perekonomian yang makin mengekang kehidupan rakyat Indonesia, terutama di kalangan menengah ke bawah yang paling berisiko terinfeksi TB, pemerintah harus lebih gencar meredamnya.
Sumber : INILAH


0 komentar:
Post a Comment