Beberapa hari ini masyarakat Indonesia seperti dikagetkan pemberitaan soal tercemarnya susu formula dan makanan bayi. Para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB)-lah yang menemukan adanya Enterobacter Sakazakii (ES).
Penulis sendiri baru mendengar nama bakteri itu. Tapi, bila mendengar pemaparan dari sang peneliti, begitu miris hati ini melihat akibat yang ditimbulkannya terhadap bayi. ES dikatakan bisa mengakibatkan radang selaput otak pada bayi. Sungguh menyeramkan!!!! Naudzubillah
Tapi, ketika menyaksikan reaksi pemerintah, jadi bingung dibuatnya. Menteri Kesehatan, sebagaimana dikutip beberapa media diantaranya INILAH.COM, terkesan begitu ringan menyambut hasil penelitian itu.
Begitupula dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hingga tulisan i77ni dibuat, belum ada statement resmi dari lembaga itu soal hasil penelitian IPB. Malahan yang berkembang justru ke arah persaingan usaha.
Tapi, menurut penulis, bukannya penelitian tersebut telah dilaksanakan oleh sebuah institusi pendidikan yang cukup kredibel di Indonesia. Terlepas dari siapa yang mendanai, seperti yang ditanyakan Menteri Kesehatan, seyogianya semua pihak terkait harus memberi pernyataan resmi untuk menenangkan hati masyarakat.
Lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Yayasan Konsumen Kesehatan Indonesia (YKKI) sudah bereaksi atas temuan tersebut. Wajar, mereka merefleksikan bagaimana perasaan masyarakat yang tahu hasil penelitian itu.
Seyogianya, pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan dan BPOM langsung memberi pengumuman soal efek ES atau kondisi yang senyatanya. Maklum, mungkin sebagian besar bayi di Indonesia minum susu formula dan makan makananan bayi buatan pabrik.
Apalagi seperti diutarakan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, I Wayan T. Wibawan saat dihubungi wartawan Media Indonesia (Selasa, 26/2), fakta hasil penelitian tersebut sebenarnya sudah sempat dipaparkan kepada BPOM dua tahun lalu. Tentunya, bila BPOM atau Departemen Kesehatan terkesan adem-ayem, masyarakat justru bertanya-tanya, "Ada apa dibalik semua ini?".
Jika IPB berencana membuka tabir merek-merek susu formula dan makanan bayi mana yang tercemar ES, tentunya masyarakat akan bersenang hati. Mereka sedikit tercerahi lantaran bisa preventif dan selektif untuk membeli susu formula dan makanan bayi selanjutnya.
Kemudian, IPB juga seyogianya memberi solusi bagaimana bila susu formula dan makanan bayi tersebut sudah dikonsumsi lama oleh bayi-bayi di Indonesia. Bagaimana jalan keluarnya, termasuk mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh ES itu.
Sekali lagi, tentunya semua itu butuh keikhlasan IPB untuk mengungkapkan fakta sebenarnya. Tentu penulis faham bagaimana kode etik akademisi bila hasil penelitiannya hanya titipan atau bertendensi tertentu. Atau, IPB tentunya lebih memahami bagaimana harapan masyarakat terhadap institusi pendidikan tinggi seperti IPB untuk memberikan pencerahan kepada mereka.
Jadi, meski pemerintah belum mau mengumumkan, maka masyarakat sudah bisa antisipasi. Penulis berharap, pemerintah pun mau legowo untuk membeberkan kondisi yang sejatinya.
Home »
» Ada Apa di Balik Susu Tercemar?
Ada Apa di Balik Susu Tercemar?
Written By REDAKTUR on 26 February 2008 | 1:40 AM
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.


0 komentar:
Post a Comment